NAMA :
Florensia Marselli Kidi
NIM :
110388201036
KELAS :
D4
Kampung
dan Suku Jadi Perhatian Orang Atas
*Kini kampung Panglong dan orang-orang suku laut
lebih diperhatikan.
Berbicara
mengenai suku yang ada di Indonesia, memeng tidak ada habisnya. Karena begitu
banyak suku yang ada di Nusantara ini. Dari puncak gunung hingga sampai turun
ke laut pun semua ada, banyak ragam bahasa dan suku. Ada suku pedalaman, ada
suku yang sudah biasa kita lihat, kita temui, dan kita dengar di telinga kita.
Nah, berbicara tentang suku
pedalaman, di Kepri ini pun ada suku pedalaman yang sudah mulai berkembang dan
bergaul seperti pada umumnya. Mereka ini disebut dengan orang-orang suku
laut.Ketika mendengar kata ‘orang suku laut’ mungkin beberapa daripada kita
pasti sudah tau kalau orang suku laut adalah orang-orang yang punya ‘ilmu’. Mau
ilmu yang baik, yang bisa membantu orang lain,maupun yang gunanya tidak baik.
Namun di balik itu semua, suku laut
ini ternyata punya cerita mengapa mereka disebut-sebut sebagai orang-orang suku
laut. Dengan sedikit berbincang-bincang dengan Pak Katon yang juga asli orang
suku laut, saya menemukan jawaban dari pertanyaan tadi. Bahwa “ waktu
penjajahan itu dulu mau menyelamatkan diri atau mau mempertahankan diri itu kan
akhirnya yang posisi itu lari ke hutan akhirnya jadinya orang rimba, jadi juga
yang waktu itu posisinya lari turun ke laut jadinya orang suku laut.” Begitu
cerita Pak Katon.
Beliau
ini jugalah orang yang diundang ke Jakarta untuk bertemu suku-suku pedalaman
lainnya. Beliau hanyalah seorang nelayan biasa yang tak punya pendidikan, tapi
beliau dipercaya dapat mewakili suara-suara saudara-saudaranya.
Dengan begitu bangganya beliau
menceritakan kisah perjalanannya di Jakarta. “yang pergi itu saya, waktu ke
Jambi itu sama Ahmad, tapi yang ke Sulawesi saya sendiri, yang bawa ke Jakarta
itu kemaren orang dari Pinang juga, ini apa dari kantor apa itu” nelayan yang
juga saudara Pak Boncet ini mulai bingung. “dari Kantor Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan ya pak?” ucap say coba membatunya. “ha..iya” senyum simpul timbul di
wajahnya. Lalu ia melanjutkan lagi ceritanya “ dari Tanjungpinang ke Jakarta
kami cuma berdua sama orang Dinas itu, tak kemaren itu kan ditemukan suku, jadi
waktu ke Jambi kemaren ketemu orang rimba, dari Jambi saya pulang dulu, baru ke
Jakarta ke Sulawesi. Ke Jakarta itu ketemu suku juga, ketemu suku laut juga. Di
Jakarta di Sulawesi ditemukan suku lah” ucap Pak Katon panjang lebar.
Tak hanya ceritanya saja yang penuh
semangat, tetapi beliau juga punya semangat yang sama untuk suku-sukunya.
Ketika dinya kenapa begitu semangatnya? Pak Katon menjawab singkat namun punya
arti dan semangat dari kata-katanya, “ya “ ya kita semakin giat lah , macam
makin semangat lah, jadi berari bukan kami orang suku laut aja, di daerah
mana-mana dia ada.”
Pengalamannya yang penuh pengalamn
itu pun memakan waktu 8 hari, beliau berada di Jakarta selama 4 hari begitu
juga di Sulawesi.”nyampai rumah 9 hari lahsampai rumah, pakai pesawat” ungkap
Pak Katon, sepertinya begitu bangga ia sudah pernah merasakan rasanya naik
pesawat.
Di balik semua usaha dan hasil yang
telah bersama-sama mereka lakukan yaitu usaha untuk menjadi masyarakat social
seperti masyarakat lainnya pun membuahkan hasil yang baik. Kini orang-orang
suku laut sudah mendapat tempat tinggal yang layak di daratan dan sudah
memiliki agama yang sangat mereka yakini.
Tapi hal-hal yang mereka nikmati tak
membuat mereka ‘mengangkat dagu tinggi-tinggi’, sepeti kata Pak Katon “ya,
biasa biasa aja lah ya, hanya kita anggap itu sama aja lah kita anggap, hanya
dulu tidak diperhati pemerintah, jadi sekarang sudah kesana kemari jadi sudah
ada nampaknya, sudah diperhatikan pemerintah, kalo dulu kan kita hanya di dalam
terus, jadi pemerintah itu tidak tau masalahnya apa, orang suku laut ini apa”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar