Rabu, 12 Maret 2014

tugas buat berita makul Praktek Jurnalistik



NAMA            : Florensia Marselli Kidi
NIM                : 110388201036
KELAS           : D4
Kampung dan Suku Jadi Perhatian Orang Atas
*Kini kampung Panglong dan orang-orang suku laut lebih diperhatikan.
                       
Berbicara mengenai suku yang ada di Indonesia, memeng tidak ada habisnya. Karena begitu banyak suku yang ada di Nusantara ini. Dari puncak gunung hingga sampai turun ke laut pun semua ada, banyak ragam bahasa dan suku. Ada suku pedalaman, ada suku yang sudah biasa kita lihat, kita temui, dan kita dengar di telinga kita.
            Nah, berbicara tentang suku pedalaman, di Kepri ini pun ada suku pedalaman yang sudah mulai berkembang dan bergaul seperti pada umumnya. Mereka ini disebut dengan orang-orang suku laut.Ketika mendengar kata ‘orang suku laut’ mungkin beberapa daripada kita pasti sudah tau kalau orang suku laut adalah orang-orang yang punya ‘ilmu’. Mau ilmu yang baik, yang bisa membantu orang lain,maupun yang gunanya tidak baik.
            Namun di balik itu semua, suku laut ini ternyata punya cerita mengapa mereka disebut-sebut sebagai orang-orang suku laut. Dengan sedikit berbincang-bincang dengan Pak Katon yang juga asli orang suku laut, saya menemukan jawaban dari pertanyaan tadi. Bahwa “ waktu penjajahan itu dulu mau menyelamatkan diri atau mau mempertahankan diri itu kan akhirnya yang posisi itu lari ke hutan akhirnya jadinya orang rimba, jadi juga yang waktu itu posisinya lari turun ke laut jadinya orang suku laut.” Begitu cerita Pak Katon.
Beliau ini jugalah orang yang diundang ke Jakarta untuk bertemu suku-suku pedalaman lainnya. Beliau hanyalah seorang nelayan biasa yang tak punya pendidikan, tapi beliau dipercaya dapat mewakili suara-suara saudara-saudaranya.
            Dengan begitu bangganya beliau menceritakan kisah perjalanannya di Jakarta. “yang pergi itu saya, waktu ke Jambi itu sama Ahmad, tapi yang ke Sulawesi saya sendiri, yang bawa ke Jakarta itu kemaren orang dari Pinang juga, ini apa dari kantor apa itu” nelayan yang juga saudara Pak Boncet ini mulai bingung. “dari Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ya pak?” ucap say coba membatunya. “ha..iya” senyum simpul timbul di wajahnya. Lalu ia melanjutkan lagi ceritanya “ dari Tanjungpinang ke Jakarta kami cuma berdua sama orang Dinas itu, tak kemaren itu kan ditemukan suku, jadi waktu ke Jambi kemaren ketemu orang rimba, dari Jambi saya pulang dulu, baru ke Jakarta ke Sulawesi. Ke Jakarta itu ketemu suku juga, ketemu suku laut juga. Di Jakarta di Sulawesi ditemukan suku lah” ucap Pak Katon panjang lebar.
            Tak hanya ceritanya saja yang penuh semangat, tetapi beliau juga punya semangat yang sama untuk suku-sukunya. Ketika dinya kenapa begitu semangatnya? Pak Katon menjawab singkat namun punya arti dan semangat dari kata-katanya, “ya “ ya kita semakin giat lah , macam makin semangat lah, jadi berari bukan kami orang suku laut aja, di daerah mana-mana dia ada.”
            Pengalamannya yang penuh pengalamn itu pun memakan waktu 8 hari, beliau berada di Jakarta selama 4 hari begitu juga di Sulawesi.”nyampai rumah 9 hari lahsampai rumah, pakai pesawat” ungkap Pak Katon, sepertinya begitu bangga ia sudah pernah merasakan rasanya naik pesawat.
            Di balik semua usaha dan hasil yang telah bersama-sama mereka lakukan yaitu usaha untuk menjadi masyarakat social seperti masyarakat lainnya pun membuahkan hasil yang baik. Kini orang-orang suku laut sudah mendapat tempat tinggal yang layak di daratan dan sudah memiliki agama yang sangat mereka yakini.
            Tapi hal-hal yang mereka nikmati tak membuat mereka ‘mengangkat dagu tinggi-tinggi’, sepeti kata Pak Katon “ya, biasa biasa aja lah ya, hanya kita anggap itu sama aja lah kita anggap, hanya dulu tidak diperhati pemerintah, jadi sekarang sudah kesana kemari jadi sudah ada nampaknya, sudah diperhatikan pemerintah, kalo dulu kan kita hanya di dalam terus, jadi pemerintah itu tidak tau masalahnya apa, orang suku laut ini apa”
                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar